Lebah Begantong: Dari Panggung Kecil Medan ke Panggung Nasional
Oleh: Abdullah Rasyid Anak Medan, Pencinta Budaya Melayu.
ANAKMEDANBUNG.com | MEDAN – Saya pertama kali menyaksikan Lebah Begantong pada Mei 2022, ketika mereka tampil dalam acara Pelantikan Pengurus DPD Partai Demokrat Sumatera Utara di Medan.
Entah mengapa, penampilan mereka waktu itu langsung tertinggal dalam ingatan saya.
Bukan semata karena musiknya. Bukan pula karena pakaian Melayu yang mereka kenakan. Yang menarik justru cara mereka membawa kebudayaan itu: ringan, jenaka, cair, tetapi tetap santun.
Mereka bernyanyi, berpantun, menggoda suasana, menyapa tamu, lalu membuat forum yang semula formal menjadi lebih hidup.
Saya masih ingat berpikir saat itu: grup ini punya sesuatu.
Namanya Lebah Begantong.
Beberapa tahun kemudian, nama itu muncul lagi di hadapan saya. Kali ini bukan dari panggung di Medan, melainkan dari sebuah acara besar di Jakarta.
Lebah Begantong tampil dalam puncak HUT ke-28 Partai Amanat Nasional, 18 September 2026. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para menteri dan sejumlah tokoh nasional, mereka kembali melakukan apa yang sejak awal menjadi kekuatan mereka: memainkan musik Melayu dan melontarkan pantun.
Seusai tampil, Presiden Prabowo memanggil mereka dan berfoto bersama.
Ketika melihat momen itu, ingatan saya langsung terlempar ke Medan, Mei 2022.
Dari panggung kecil di Medan, kini mereka berdiri di panggung nasional.
Perjalanan semacam ini selalu menarik. Sebab di balik sebuah panggung besar biasanya ada cerita panjang yang tidak selalu terlihat.
Lebah Begantong lahir di Medan pada 2017. Pada masa awalnya, mereka tidak langsung mendapat panggung besar, apalagi sorotan nasional. Mereka pernah tampil dari satu tempat ke tempat lain tanpa bayaran.
Mereka tetap datang.
Tetap bermain musik.
Tetap berpantun.
Tujuannya sederhana: memperkenalkan budaya Melayu.
Bagi saya, justru di situlah nilai paling kuat dari perjalanan mereka.
Kerja kebudayaan sering kali dimulai ketika belum ada tepuk tangan.
Ia dimulai ketika seseorang tetap memainkan musik meski penontonnya sedikit. Ketika seseorang tetap memakai pakaian adat meski dianggap tidak mengikuti zaman. Ketika pantun tetap diucapkan meski dunia hiburan bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.
Kebudayaan bertahan bukan hanya karena seminar, festival besar atau pidato tentang pelestarian budaya.
Ia bertahan karena ada orang-orang yang mau terus menjalaninya.
Lebah Begantong adalah salah satu contohnya.
Yang juga menarik, mereka tidak memperlakukan budaya Melayu sebagai barang lama yang harus disimpan di lemari kaca.
Mereka membawanya bermain-main dengan zaman.
Pantun dibuat jenaka. Musik Melayu dibuat komunikatif. Penonton diajak berinteraksi. Media sosial digunakan. Humor menjadi pintu masuk agar orang yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dekat dengan musik Melayu akhirnya mau mendengar.
Inilah persoalan besar kebudayaan hari ini.
Kita sering berbicara tentang melestarikan budaya, tetapi lupa bahwa sebuah kebudayaan tidak cukup hanya dilestarikan.
Ia harus dihidupkan.
Kalau hanya disimpan, ia menjadi artefak.
Kalau hanya dibicarakan, ia menjadi nostalgia.
Tetapi kalau dimainkan, dinyanyikan, ditarikan, dipantunkan dan diperkenalkan kembali kepada anak muda, ia menjadi kehidupan.
Lebah Begantong memahami hal itu.
Mereka tidak meninggalkan Melayu agar dianggap modern.
Mereka membawa Melayu masuk ke dalam dunia modern.
Baju Melayu tetap mereka kenakan.
Pantun tetap menjadi senjata utama.
Irama Melayu tetap menjadi identitas.
Hanya panggungnya yang berubah.
Dulu mungkin di sudut-sudut kota Medan. Kemudian di berbagai daerah. Lalu media sosial. Malaysia. Hingga akhirnya panggung nasional di Jakarta.
Itulah yang membuat saya, sebagai Anak Medan dan pencinta budaya Melayu, ikut merasa bangga.
Bukan semata-mata karena mereka bisa tampil di hadapan Presiden.
Foto dengan Presiden tentu membanggakan. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih penting dari itu.
Ketika Lebah Begantong berdiri di panggung nasional dengan pakaian Melayu, memainkan musik Melayu dan berpantun dengan gaya Melayu, sesungguhnya yang ikut berdiri di panggung itu adalah identitas budaya kita.
Ada Medan di sana.
Ada Sumatera Utara.
Ada jejak masyarakat Melayu yang selama berabad-abad hidup di pesisir timur Sumatera.
Ada pantun, bahasa, musik dan kelakar yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dan ada pesan sederhana: budaya daerah tidak perlu merasa kecil di hadapan panggung nasional.
Indonesia justru menjadi besar karena keragaman itu.
Kita tidak harus menjadi seragam untuk menjadi Indonesia.
Melayu boleh tetap Melayu.
Batak tetap Batak.
Minangkabau tetap Minangkabau.
Jawa, Sunda, Bugis, Dayak, Aceh, Papua dan berbagai kebudayaan Nusantara lainnya tetap tumbuh dengan identitas masing-masing.
Semua bertemu dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Karena itu, saya berharap perjalanan Lebah Begantong tidak berhenti pada tepuk tangan di Jakarta.
Panggung nasional semestinya menjadi pintu menuju perjalanan yang lebih jauh.
Budaya Melayu memiliki ruang yang luas di Asia Tenggara. Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand Selatan dan kawasan lain memiliki pertalian sejarah dengan dunia Melayu.
Mengapa tidak suatu hari Lebah Begantong membawa pantun dan musik Melayu dari Medan ke lebih banyak panggung internasional?
Namun ada satu hal yang lebih penting dari seberapa jauh mereka akan pergi.
Jangan kehilangan akar.
Semakin tinggi panggung, semakin penting mengingat dari mana perjalanan dimulai.
Tetaplah jenaka tanpa kehilangan kesantunan.
Tetaplah modern tanpa meninggalkan Melayu.
Tetaplah membumi meski lampu panggung semakin terang.
Saya masih mengingat perjumpaan pertama itu, Mei 2022, di Medan.
Ketika itu mereka tampil sebagai salah satu pengisi acara.
Sekarang mereka mulai dikenal jauh lebih luas.
Perjalanan mereka mengingatkan kita bahwa terkadang jalan menuju panggung besar memang dimulai dari tempat yang sederhana—bahkan dari panggung yang pernah dimainkan tanpa bayaran.
Teruslah berdendang, Lebah Begantong.
Teruslah berpantun.
Bawalah Melayu dari Medan ke mana pun kaki melangkah.
Sebab setiap kali musik Melayu dimainkan, setiap kali pantun kembali terdengar, kita sedang menitipkan satu pesan kepada generasi berikutnya:
Budaya Melayu bukan sekadar cerita tentang masa lalu.
Ia masih hidup, masih tumbuh, dan masih memiliki masa depan.**