HUMANIKA DAN JEJAK MASA LALU: 36 Tahun Kemudian, Ke Mana Perginya Suara Pergerakan?
Mereka berani berbicara, walau ketika berbicara memiliki risiko. Mereka mengkritik ketika kritik belum tentu menghasilkan apa-apa bagi diri mereka. Mereka memperjuangkan rakyat tanpa terlebih dahulu bertanya: apa yang akan saya dapatkan?
ANAKMEDANBUNG.com | Oleh : Drs. Muhammad Bardansyah. Ch.Cht.
Beberapa hari lalu saya menghadiri peringatan 36 tahun HUMANIKA. Ada rasa haru, tetapi juga muncul satu pertanyaan yang sulit saya singkirkan.
Saya teringat ketika masih menjadi mahasiswa semester dua di Medan pada era 1990-an. HUMANIKA bagi saya waktu itu bukan sekadar nama sebuah organisasi. Ia adalah simbol keberanian.
Di sana berkumpul orang-orang pergerakan dari berbagai latar belakang kelompok Cipayung—HMI, GMNI, PMKRI, GMKI, dan PMII. Mereka berdiskusi, turun ke jalan, menyuarakan persoalan rakyat, mengkritisi kebijakan pemerintah, dan tidak jarang mengambil posisi yang berhadapan dengan kekuasaan.
Pada masa itu, aktivis HUMANIKA dan kelompok-kelompok pergerakan lainnya menjadi bagian dari suara kritis masyarakat sipil. Persoalan ketidakadilan ekonomi, demokrasi, transparansi, hingga berbagai persoalan kebijakan negara menjadi bahan perdebatan dan aksi. Bahkan persoalan BLBI pun pernah menjadi bagian dari perhatian dan kritik gerakan masyarakat sipil.
Bagi mahasiswa seperti saya ketika itu, mereka adalah orang-orang yang mengagumkan.
Bukan karena mereka memiliki jabatan.
Justru karena mereka belum memiliki jabatan.
Mereka berani berbicara, walau ketika berbicara memiliki risiko. Mereka mengkritik ketika kritik belum tentu menghasilkan apa-apa bagi diri mereka. Mereka memperjuangkan rakyat tanpa terlebih dahulu bertanya: apa yang akan saya dapatkan?
Kini, 36 tahun telah berlalu, waktu ternyata membawa para aktivis itu ke berbagai tempat.
Sebagian menjadi kepala daerah. Sebagian menjadi anggota parlemen. Ada yang masuk pemerintahan, menjadi menteri, wakil menteri, staf khusus, hakim, pengusaha, pimpinan organisasi, dan tokoh partai politik. Bahkan sebagian kini berada di dalam sistem kekuasaan yang dahulu sering mereka kritisi.
Itulah perjalanan hidup, dan tentu tidak ada yang salah dengan itu.
Seorang aktivis tidak harus selamanya menjadi demonstran. Perjuangan juga tidak harus selalu dilakukan dari luar pagar kekuasaan. Masuk ke dalam sistem dan mengambil bagian dalam pemerintahan pun dapat menjadi bentuk pengabdian.
Tetapi justru karena itulah sebuah pertanyaan menjadi penting: Ketika posisi berubah, apakah nilai-nilai perjuangan juga ikut berubah?
Dulu kita berbicara tentang keadilan, apakah sekarang kita masih sensitif ketika melihat ketidakadilan?
Dulu kita menuntut transparansi, apakah ketika berada di dalam kekuasaan kita masih nyaman ketika masyarakat meminta transparansi?
Dulu kita mengkritik pemerintah, apakah sekarang kita masih bersedia mengkritik pemerintah ketika kebijakan yang keliru datang dari lingkungan kita sendiri?
Dulu kita membela rakyat kecil, apakah suara mereka masih terdengar ketika kita duduk di ruang-ruang yang jauh lebih nyaman?
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tidak ditujukan kepada seseorang secara khusus. Justru sebaliknya.
Ini adalah pertanyaan untuk kita semua yang pernah menikmati romantisme gerakan, sebab kekuasaan memiliki cara yang sangat halus untuk mengubah seseorang. Bukan selalu dengan tekanan. Kadang cukup dengan fasilitas, jabatan, akses, kehormatan, dan kenyamanan.
Hariman Siregar, salah seorang tokoh senior yang hadir dalam peringatan 36 tahun HUMANIKA, bahkan mengingatkan bahwa godaan jabatan bisa lebih besar daripada intimidasi ketika seseorang masih menjadi demonstran.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mungkin justru merupakan inti dari perjalanan panjang sebuah gerakan.
Menjadi aktivis ketika berhadapan dengan kekuasaan mungkin membutuhkan keberanian.
Tetapi mempertahankan idealisme setelah mendapatkan kekuasaan membutuhkan keberanian yang berbeda.
Karena itu, 36 tahun HUMANIKA seharusnya tidak berhenti sebagai reuni, nostalgia, foto bersama, dan mengenang masa lalu.
Ia seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya: Apakah anak-anak muda yang dulu berteriak tentang keadilan masih mengenali dirinya ketika bercermin hari ini?
Kalau jawabannya masih “ya”, maka perjalanan 36 tahun itu bukan sekadar perjalanan waktu, tetapi perjalanan nilai.
Namun jika suatu hari seorang aktivis menemukan dirinya membela sesuatu yang dahulu ia kritik, mungkin ia perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah keadaan yang berubah, atau saya yang berubah?
HUMANIKA telah melewati 36 tahun sejarah Indonesia, para aktivisnya telah menempuh jalan masing-masing.
Ada yang tetap menjadi suara kritis. Ada yang masuk ke pemerintahan. Ada yang berada di parlemen. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang memilih jalur politik. Itu semua adalah pilihan hidup.
Tetapi satu hal yang mungkin tidak pernah berubah: sejarah selalu menyimpan rekaman tentang apa yang pernah kita perjuangkan.
Dan suatu hari, sejarah pula yang akan bertanya: Ke mana akhirnya idealisme itu pergi?
Mungkin inilah makna terdalam dari sebuah reuni, bukan sekadar bertemu dengan kawan lama, tetapi bertemu kembali dengan diri kita yang dahulu.
“In politics, there are no permanent friends or permanent enemies—only permanent interests.”
Dan mungkin, setelah 36 tahun HUMANIKA, pertanyaan terpentingnya bukan lagi siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.
Melainkan: Ketika kepentingan datang mengetuk pintu, masih adakah nilai yang tidak boleh kita jual?
Saat mengingat masa lalu.
Ahad, 20 September 2026.