Lantang Bersuara Kebenaran & Fakta

Jangan Bekawan dengan Trump

Kekayaan alam Indonesia ini, melimpah ruah dan gak habis-habis. Tapi jangan sepele. Kalau salah pergaulan dan salah pilih kawan, bisa-bisa Republik ini tumbang tersungkur.

ANAKNEDANBUNG.com | Oleh: Bapak Hasibuan



 

KONEKSI menembus ribuan mil pada Jumat malam, 4 September 2026. Sebuah panggilan video yang diinisiasi oleh Bang Surya—seorang diaspora “Anak Medan” Indonesia yang menetap di Jerman—terputus sebelum sempat tersambung. Panggilan tak terjawab dan balasan yang sempat tertunda akhirnya dijembatani lewat pesan singkat, yang kemudian membuka jalan bagi percakapan panjang keesokan harinya.

Sabtu, 5 September 2026, pukul 15:46 WIB, dialog yang ditunggu-tunggu itu pun mengalir deras. Beranjak dari kabar kesehatan—mulai dari cerita sukses operasi tumor hati pada Januari 2026 lalu, di mana dua tumor (4 cm di hati dan 2 cm dekat empedu) sukses dibabat habis oleh dokter, hingga perjuangan makan bubur selama dua bulan yang bikin berat badannya sempat nyungsep lebih dari 10 kg sebelum akhirnya balik bohay melebihi bobot sebelum operasi—obrolan pun bergeser ke mana-mana.

Cakap punya cakap, ngalor-ngidul, sampailah cerita soal anak-anak, kilas balik masa lalu saat beliau meninggalkan hiruk-pikuk pusat Kota Medan dan Terminal Sambo yang legendaris di masanya pada akhir tahun 1970-an dengan menaiki kapal laut, sampai akhirnya berlabuh dan menetap di Hamburg.

Mengarungi berbagai negara di Eropa sebelum akhirnya menambatkan hati dan mendapat kewarganegaraan Jerman, membuat Bang Surya punya pandangan yang matang soal dinamika sosial dan ekonomi Benua Biru saat ini.

“Uni Eropa itu melirik dan berharap sangat dengan Indonesia yang punya sumber daya alam seluas samudra,” ujarnya dengan nada mantap.

Apalagi di tengah perang berkepanjangan antara Iran versus Amerika dan sekutunya hari ini, Uni Eropa semakin membulatkan tekad untuk merapatkan barisan dan menjalin kerja sama erat dengan Indonesia di berbagai sektor.

“Indonesia punya harapan besar bagi Uni Eropa. Dan kita cocok bergaul dengan mereka,” ungkapnya.

Kenapa? Karena Eropa mengelola bisnis dengan profesional, nggak kaleng-kaleng. Beda cerita dengan Amerika atau Israel yang nafsunya bukan cuma mau menguasai ekonomi suatu negara, tapi juga berambisi menyetir pemerintahan negara lain sampai tunduk.

Jangan Bekawan dengan Trump

Kekayaan alam Indonesia ini, melimpah ruah dan gak habis-habis. Tapi jangan sepele. Kalau salah pergaulan dan salah pilih kawan, bisa-bisa Republik ini tumbang tersungkur.

“Makanya, aku ingatkan dan wanti-wanti: jangan bekawan dengan Trump!” tegasnya.

Analisisnya tajam. Gaya kepemimpinan Trump yang doyan intervensi militer dan ekonomi secara unilateral yang suka main gertak sambal, menggunakan kekuatan atau kekuasaan secara paksa, merasa paling berkuasa, dan suka mendikte negara lain seolah-olah sedang menjadi “preman” di kancah global.

Pikirnya, semua negara bisa ditundukkan semaunya seperti Venezuela lewat operasi militer di Caracas yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Atau gampang mencaplok wilayah di negara yang ekonominya megap-megap seperti Nigeria lewat gempuran akhir Desember 2025 lalu.

Tapi taktik itu tak mempan kalau berhadapan dengan negara yang fondasi ekonomi dan pertahanannya kokoh.

“Jadi, kekuatan ekonomi suatu negara itu yang menentukan, gampang tidaknya si Trump ini menaklukkannya. Kalau Indonesia sampai salah langkah dan bekawan dengan orang seperti itu, di situlah ekonomi kita ambruk,” bebernya.

Pergeseran Geopolitik di Timur Tengah dan Batas Kekuatan Hegemon

Obrolan sore itu juga menyinggung situasi di Timur Tengah yang kian panas. Menurut Bang Surya, sekutu-sekutu yang membackup Israel hari ini sudah mulai loyo. Kampanye militer yang mereka buat gak sanggup menundukkan negara-negara yang diperanginya secara telak. Bantuan finansial dan logistik dari negara-negara Eropa pun sudah menyusut drastis, tinggal segelintir yang masih bertahan karena faktor historis semata.

Alhasil, jangankan Israel yang tak pernah berhenti membantai Palestina, Amerika Serikat sendiri gak bakal sanggup menang melawan Iran. Kekuatan adidaya itu ada batasnya di hadapan negara yang punya mental perlawanan dan kedaulatan yang kuat.

Dialog lintas benua ditutup dengan sebuah pesan penegasan yang sarat makna bagi masa depan bangsa:

“Indonesia itu besar dan kaya. Jaga kedaulatan, perkuat kemandirian, dan ingat pesanku: jangan asal merangkul kawan.”

Bagi Indonesia yang sedang melangkah menjadi pemain utama global, menjaga prinsip non-alignment (bebas-aktif), mengelola ekonomi secara profesional, dan berdaulat penuh atas kekayaan alam adalah harga mati untuk menghindari jebakan geopolitik internasional.

 

Sabtu, 5 September 2026