Ketika kemarahan Bisa Disewa: Mengenal Provokator dan Agitator Bayaran
Mereka tidak selalu hadir dengan wajah garang. Pada zaman media sosial, seorang provokator bahkan tidak perlu berdiri di tengah kerumunan. Ia dapat bekerja dari sebuah kamar, menggunakan telepon genggam, akun anonim, video pendek, potongan berita, atau kalimat yang sengaja dirancang untuk membangkitkan kemarahan.
ANAKMEDANBUNG.com | Ada orang yang marah karena ketidakadilan. Ada yang turun ke jalan karena kecewa. Ada pula yang berteriak karena merasa negaranya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua itu adalah bagian yang sah dari kehidupan demokrasi.
Tetapi ada satu fenomena yang jauh lebih berbahaya: ketika kemarahan masyarakat diproduksi, diarahkan, bahkan disewa, di situlah kita mengenal provokator dan agitator bayaran.
Mereka tidak selalu hadir dengan wajah garang. Pada zaman media sosial, seorang provokator bahkan tidak perlu berdiri di tengah kerumunan. Ia dapat bekerja dari sebuah kamar, menggunakan telepon genggam, akun anonim, video pendek, potongan berita, atau kalimat yang sengaja dirancang untuk membangkitkan kemarahan.
Yang dijual bukan sekadar kata-kata, yang dijual adalah pengaruh.
๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ผ๐บ๐ผ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐
Secara sederhana, provokasi bertujuan mendorong orang bereaksi secara emosional, sedangkan agitasi berusaha menggerakkan orang untuk mengambil sikap atau tindakan tertentu. Keduanya bukan barang baru dalam politik. Propaganda, agitasi dan mobilisasi massa telah digunakan jauh sebelum internet ditemukan.
Namun teknologi digital membuat semuanya jauh lebih cepat, murah dan sulit dilacak.
Penelitian mengenai pemilu Indonesia 2024 menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang penting penyebaran disinformasi politik, termasuk serangan terhadap karakter dan isu politik melalui berbagai platform digital.
Lebih menarik lagi, penelitian terhadap jaringan cyber troops di Indonesia menemukan adanya operasi yang memiliki tiga karakter penting: pendanaan tersembunyi, koordinasi yang tinggi, dan penggunaan akun anonim.
Para pelakunya bahkan dapat bekerja secara sementara berdasarkan proyek tertentu. Dengan kata lain, politik kemarahan mulai memiliki pasar tenaga kerja sendiri.
๐ง๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น?
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa seseorang mau dibayar untuk menjadi provokator, pertanyaannya: mengapa masyarakat mau mempercayainya? Di sinilah psikologi sosial bekerja.
Tidak ada provokator yang benar-benar berkuasa atas masyarakat yang tidak memiliki keresahan. Penelitian mengenai mobilisasi massa menunjukkan bahwa propaganda sering kali tidak menciptakan keyakinan dari nol. Ia lebih sering mengorganisasi dan mengaktifkan keyakinan, ketakutan atau kemarahan yang sudah ada sebelumnya.
Masyarakat yang menghadapi pengangguran, ketimpangan, biaya hidup tinggi, ketidakadilan hukum, korupsi atau rasa tidak memiliki masa depan akan jauh lebih mudah menjadi lahan subur bagi narasi yang menawarkan kambing hitam.
Dalam kondisi seperti itu, provokator tidak perlu menciptakan kemarahan, ia hanya perlu menemukan titik yang sudah sakit, lalu menekannya.
Inilah yang dalam kajian politik sering dikaitkan dengan konsep relative deprivation: perasaan bahwa seseorang atau kelompok memperoleh jauh lebih sedikit daripada apa yang mereka anggap layak mereka dapatkan.
Namun ketidakpuasan saja belum cukup, riset menunjukkan bahwa keluhan sosial baru lebih mudah berubah menjadi aksi kolektif ketika terdapat peluang politik, identitas kelompok, jaringan mobilisasi dan persepsi bahwa tindakan tersebut akan menghasilkan sesuatu.
Karena itu, seorang agitator yang efektif bukanlah orang yang paling keras berteriak, ia adalah orang yang paling pandai membaca keresahan.
๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ป๐๐๐ธ ๐ ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius. Provokator bayaran tidak selalu muncul secara spontan. Dalam politik modern, kemampuan memengaruhi publik dapat dibentuk melalui pengalaman kampanye, organisasi politik, jaringan media, kelompok kepentingan, komunitas digital, konsultan komunikasi, bahkan jaringan informal yang bekerja berdasarkan proyek.
Tidak semuanya illegal, tidak semuanya jahat.
Seorang konsultan politik, pengelola media sosial atau influencer dapat bekerja secara sah untuk menyampaikan pesan politik.
Persoalannya muncul ketika batas antara komunikasi politik dan manipulasi publik sengaja dihapus: identitas disembunyikan, informasi dipelintir, lawan didehumanisasi, dan emosi massa dipelihara untuk kepentingan tertentu.
Di Indonesia, penelitian mengenai jaringan operasi pengaruh digital menunjukkan bahwa industri tersebut dapat melibatkan koordinator, influencer, pembuat konten dan operator akun palsu yang bekerja dalam jaringan berbasis proyek.
Artinya, yang kita hadapi bukan lagi sekadar โorang bayaranโ. Kita berhadapan dengan kemungkinan munculnya industri pengelolaan opini.
๐จ๐ป๐๐๐ธ ๐๐ฝ๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐๐ถ๐ด๐๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป?
Tujuannya dapat bermacam-macam. Dalam politik, mereka dapat digunakan untuk menyerang lawan, membentuk persepsi publik, menciptakan tekanan, mengalihkan perhatian dari persoalan tertentu, atau membangun citra bahwa sebuah kelompok memiliki dukungan massa yang besar.
Dalam konflik sosial, teknik yang sama dapat digunakan untuk memperbesar ketegangan antarkelompok. Dalam ekonomi, keresahan publik bahkan dapat memiliki konsekuensi material: pasar menjadi tidak stabil, investasi tertunda, reputasi perusahaan atau institusi dihancurkan, dan kebijakan publik dapat dipaksa berubah karena tekanan opini.
Kajian tentang mobilisasi kelompok bahkan menunjukkan bahwa para pemimpin dapat mengeksploitasi keluhan masyarakat dengan menciptakan gambaran mengenai โmusuhโ, kemudian menggunakan ketakutan tersebut untuk menggalang dukungan. Maka, provokasi bukan sekadar persoalan komunikasi, ia dapat menjadi instrumen perebutan kekuasaan dan sumber daya.
๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐๐ถ๐ด๐๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป?
Biasanya ketika sebuah situasi memiliki tiga unsur: ketidakpuasan, ketegangan dan peluang. Pemilu adalah salah satunya, krisis ekonomi adalah lainnya.
Konflik sosial, pergantian kekuasaan, demonstrasi besar, kebijakan kontroversial, skandal politik, bahkan isu identitas juga dapat menjadi ladang yang subur.
Provokator datang ketika sebuah masyarakat sedang emosional, sebab masyarakat yang tenang sulit digerakkan oleh kebencian. Sebaliknya, masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil hanya membutuhkan sedikit dorongan untuk mengubah kekecewaan menjadi kemarahan kolektif.
๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐๐ฎ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฒ๐๐ฎ๐ฟ๐ป๐๐ฎ: ๐ ๐ฎ๐๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ ๐ง๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ด๐ถ ๐ง๐ฎ๐ต๐ ๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฆ๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎ
Inilah persoalan terbesar era digital. Dahulu orang masih dapat bertanya: siapa yang membiayai demonstrasi ini? Siapa pemilik media itu? Siapa yang mengirimkan selebaran? Sekarang pertanyaan tersebut menjadi jauh lebih sulit.
Satu pesan dapat muncul dari ratusan akun. Sebuah video dapat dipotong menjadi potongan-potongan pendek. Sebuah kebohongan dapat diulang berkali-kali sampai tampak seperti kebenaran. Algoritma kemudian melakukan sisanya.
Orang yang marah kepada pemerintah akan terus diberi konten yang membuatnya semakin marah. Orang yang membenci kelompok tertentu akan terus menemukan konten yang membenarkan kebenciannya.
Terbentuklah ruang informasi yang tertutup, bukan karena masyarakat tidak memiliki informasi. Justru karena mereka menerima terlalu banyak informasi yang semuanya mengatakan hal yang sama.
๐๐ป๐ฑ๐ผ๐ป๐ฒ๐๐ถ๐ฎ ๐๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ-๐ต๐ฎ๐๐ถ
Indonesia bukan negara yang kekurangan masalah. Kita memiliki ketimpangan, korupsi, persoalan lapangan kerja, konflik kepentingan, ketidakpuasan terhadap pelayanan publik dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Semua itu harus dibicarakan secara terbuka. Jangan sampai karena takut terhadap provokator, pemerintah kemudian menganggap setiap kritik sebagai provokasi. Itu justru berbahaya, sebab demokrasi membutuhkan kritik. Yang harus dilawan bukan kemarahan rakyat, melainkan manipulasi terhadap kemarahan rakyat.
Masyarakat harus mampu membedakan antara orang yang marah karena mengalami ketidakadilan dan orang yang dibayar untuk membuat orang lain marah.
Perbedaannya mungkin tidak terlihat di permukaan, tetapi dampaknya sangat besar, sebab seorang warga yang marah mungkin hanya ingin perubahan.
Seorang agitator bayaran mungkin ingin mengubah kemarahan itu menjadi senjata untuk kepentingan orang lain.
Dan ketika sebuah bangsa tidak lagi mampu membedakan antara keresahan yang genuine dan keresahan yang direkayasa, demokrasi memasuki wilayah yang berbahaya: ketika emosi rakyat tidak lagi menjadi suara rakyat, melainkan menjadi komoditas yang dapat disewa oleh siapa saja yang memiliki uang dan kepentingan.
๐ฅ๐ฒ๐ณ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ป๐๐ถ
1. Thomas, E. F. (2013). ๐๐ฐ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ค๐ณ๐ข๐ค๐บ: ๐๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ฐ๐ค๐ช๐ข๐ญ ๐ฑ๐ด๐บ๐ค๐ฉ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐จ๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ฎ๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ๐ช๐ป๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ด ๐ฐ๐ง ๐ค๐ฐ๐ญ๐ญ๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ท๐ฆ ๐ข๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ. ๐๐ฐ๐ค๐ช๐ข๐ญ ๐๐ด๐ด๐ถ๐ฆ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ฐ๐ญ๐ช๐ค๐บ ๐๐ฆ๐ท๐ช๐ฆ๐ธ, 7(1), 173โ200.
2. Matesan, I. E. (2020). ๐๐ณ๐ช๐ฆ๐ท๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ง๐ฆ๐ข๐ณ๐ด ๐ช๐ฏ ๐๐ด๐ญ๐ข๐ฎ๐ช๐ด๐ต ๐ฎ๐ฐ๐ท๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ด: ๐๐ฆ๐ท๐ช๐ด๐ช๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ธ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐ฆ๐น๐ค๐ญ๐ถ๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ, ๐ช๐ฏ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ, ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ท๐ช๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ. ๐๐ฐ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ฐ๐ง ๐๐ญ๐ฐ๐ฃ๐ข๐ญ ๐๐ฆ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐ต๐บ ๐๐ต๐ถ๐ฅ๐ช๐ฆ๐ด, 5(1), 44โ62.
3. Dyrstad, K., & Hillesund, S. (2020). ๐๐น๐ฑ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฑ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ต ๐ง๐ฐ๐ณ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐ท๐ช๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ: ๐๐ณ๐ช๐ฆ๐ท๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ฆ๐ช๐ท๐ฆ๐ฅ ๐ฐ๐ฑ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ต๐ถ๐ฏ๐ช๐ต๐บ. ๐๐ฐ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ฐ๐ง ๐๐ฆ๐ข๐ค๐ฆ ๐๐ฆ๐ด๐ฆ๐ข๐ณ๐ค๐ฉ.
4. Mietzner, M., Muhtadi, B., & Halida, R. ๐๐ฏ๐ต๐ณ๐ฆ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ถ๐ณ๐ด ๐ฐ๐ง ๐จ๐ณ๐ช๐ฆ๐ท๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ: ๐๐ณ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ฆ๐ง๐ง๐ฆ๐ค๐ต๐ด ๐ฐ๐ง ๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข’๐ด ๐๐ด๐ญ๐ข๐ฎ๐ช๐ด๐ต ๐ฎ๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ๐ช๐ป๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ.
5. Wijayanto, Berenschot, W., Sastramidjaja, Y., & Ruijgrok, K. (2026). ๐๐ฉ๐ฆ ๐ช๐ฏ๐ง๐ณ๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ถ๐ค๐ต๐ถ๐ณ๐ฆ ๐ฐ๐ง ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ต๐ช๐ค ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ด: ๐๐บ๐ฃ๐ฆ๐ณ ๐ต๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฑ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ฑ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ช๐ค ๐ฐ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ต๐ฉ๐ณ๐ฐ๐ถ๐จ๐ฉ ๐ด๐ฐ๐ค๐ช๐ข๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ ๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข. ๐๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐๐ฐ๐ฎ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ค๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ.
6. Subekti, D., Yusuf, M., Saadah, M., & Wahid, M. (2025). ๐๐ฐ๐ค๐ช๐ข๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ข ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ง๐ฐ๐ณ ๐ค๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ข๐ต๐ฆ๐ด: ๐๐ฉ๐ฆ ๐ฆ๐ท๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ ๐ช๐ฏ ๐ต๐ฉ๐ฆ 2024 ๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ข๐ญ ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ. ๐๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ช๐ฆ๐ณ๐ด ๐ช๐ฏ ๐๐ฐ๐ญ๐ช๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐๐ค๐ช๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ.
7. Moskalenko, S., & McCauley, C. (2026). ๐๐ธ๐ฆ๐ญ๐ท๐ฆ ๐ฎ๐ฆ๐ค๐ฉ๐ข๐ฏ๐ช๐ด๐ฎ๐ด ๐ฐ๐ง ๐ณ๐ข๐ฅ๐ช๐ค๐ข๐ญ๐ช๐ป๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ต๐ฐ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ณ๐ฐ๐ณ๐ช๐ด๐ฎ. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ ๐๐ณ๐ถ๐บ๐ต๐ฆ๐ณ ๐๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฌ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐๐ด๐บ๐ค๐ฉ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐จ๐บ ๐ฐ๐ง ๐๐ฆ๐ณ๐ณ๐ฐ๐ณ๐ช๐ด๐ฎ.