Lantang Bersuara Kebenaran & Fakta

Niat Ubah Nasib Berujung Duka: Kisah Pilu Wanita Sidempuan yang Tewas di Kafe Tapteng

ANAKMEDANBUNG.com, TAPANULI TENGAH – Perjuangan seorang wanita berinisial FAL (42) untuk memperbaiki taraf hidupnya berakhir dengan kisah yang menyayat hati. Warga Jalan Damar Raya, Padang Sidempuan ini ditemukan meninggal dunia di sebuah kafe di Kelurahan Binasi, Kecamatan Sorkam Barat, Tapanuli Tengah, Ahad malam (29/3/2026). Padahal, keberadaan FAL di lokasi tersebut baru hitungan hari demi mengadu nasib sebagai pelayan kafe.



“Petugas telah melakukan pemeriksaan dan visum luar bersama tenaga medis. Hasilnya, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” ungkap Kapolres Tapteng, AKBP Muhammad Alan Haikel, memastikan tidak ada unsur tindak pidana dalam kejadian ini, Selasa (31/3/2026).

Kepolisian dari Polsek Sorkam dan Tim Inafis Polres Tapteng yang tiba di lokasi langsung melakukan olah TKP di area belakang kafe milik Jamres Hutauruk.

Di sana, polisi menemukan barang-barang pribadi korban yang masih utuh, namun ditemukannya bekas muntahan di sekitar jenazah menjadi indikasi kuat bahwa korban sempat berjuang melawan rasa sakit yang hebat sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

“Di lokasi, petugas menemukan barang pribadi korban berupa ponsel, kartu identitas, serta sisa minuman. Terdapat juga bekas muntahan di belakang kafe, yang menjadi petunjuk penting terkait kondisi fisik korban sebelum meninggal dunia,” jelas laporan tersebut.

Kematian FAL menyisakan duka mendalam bagi keluarganya di Padang Sidempuan. Berdasarkan keterangan sang ibu, Imahari Siregar, putrinya tersebut memang sudah lama mengidap penyakit kronis.

Selama 10 tahun terakhir, korban harus bertahan melawan gangguan lambung akut dan sesak napas yang sering datang tiba-tiba.

“Ibu kandung korban menjelaskan bahwa putrinya sudah sekitar 10 tahun menderita sakit asam lambung (lambung akut) dan sesak napas,” tambah pihak kepolisian merujuk pada keterangan keluarga.

Ironisnya, keberangkatan FAL ke Tapanuli Tengah pada 24 Maret lalu diduga dilakukan dalam kondisi fisik dan mental yang sedang hancur. Selain didera penyakit menahun, korban dikabarkan baru saja mengalami keguguran dan tengah menghadapi badai dalam rumah tangganya.

Tekanan hidup yang bertubi-tubi inilah yang diduga membuat daya tahan tubuhnya ambruk saat mencoba memulai lembaran baru di perantauan.

“Kondisi fisik korban diduga semakin melemah karena beban pikiran akibat permasalahan rumah tangga serta informasi bahwa korban baru saja mengalami keguguran sebelum berangkat menuju Sorkam untuk mencari kerja,” pungkas laporan kepolisian tersebut. [tan]