Lantang Bersuara Kebenaran & Fakta

Demokrasi Bukan Arogan

By : Cuya

ANAKMEDANBUNG.com



Negara Indonesia masih bersistem demokrasi bukan sistem arogan. Jadi, semua orang bebas berpendapat. Ya sah-sah saja walaupun pendapat itu kadang tidak masuk akal. Dengan ngotot mengaku tetap tegak lurus dengan kesalahan- kesalahan yang tercatat dalam sejarah kelam di masa tumbangnya kekuasaan status quo.

Para ahli berpendapat jika hukum itu ada tiga macam perbedaannya, yakni secara normatif, empiris dan normatif-empiris. Jika normatif berdasarkan pengolahan data, empiris sesuai dengan kondisi di lapangan dan normatif-empiris perpaduan antara data dan fakta di lapangan dengan catatan lebih memperbanyak unsur empirisnya.

Para lembaga survei yang hanya mengejar lembaran cuan biasanya melakukan survei dengan mengandalankan secara normatif tanpa memandang empiris di lapangan bahkan di sekelil8ng tempat tinggalnya. Para lembaga survei ini sangat hafal mana paslon yang berlimpah cuan dan mana yang seret. Trik menyenangkan Paslon tersebut cuanpun masuk ke rekening.

Ya para pensurvei itu mengaku menggunakan survei secara normatif menempatkan paslon berlimpah cuan itu selalu berada di posisi teratas dari Paslon lainya.

Kalau menurut istilah pimbret anakmedanbung.com ” asal bos senang cuan pasti gampang”

Namun faktanya paslon tersebut merupakan simbol kematian demokrasi, arogan melakukan ketidakadilan lembaga se-independen Mahkamah Konstitusi sekaligus lemahnya penegakan hukum di negara kita karena jabatan tinggi orang tuanya.

Apa yang mau dibanggakan dari paslon tersebut?.Gagasannya? Track record-nya? Semua zonk, bahkan kondisi di lapangan penuh akan gimmick dan kontroversi. Beneran mau mengandalkan jualan gemoy, sedangkan arogansi dan kontrol emosinya masih buruk ditandai dengan berapi-apinya saat debat pertama.

Lalu gagasannya apa, yang dibesarkan hanya makan dan minum susu gratis. Minim fungsi karena realisasinya hanya mengenyangkan perut tanpa menyelesaikan masalah terkini soal stunting, mental health dan pendidikan.

Susu yang dipasok pun justru susu kemasan yang tinggi kadar gulanya, sedangkan makan gratis hanya cukup mengenyangkan perut yang justru membuat ketergantungan. Mereka tidak memikirkan dana yang tinggi dan membuat bengkak anggaran negara.

Beda jauh dengan pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin (AMIN) yang membawa perubahan dari ketidak adilan menjadi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kemakmuran bagi rakyat Indonesia yang meniadakan seluruh beban rakyat yang selama ini dipikul. Mulai dari digratiskannya uang sekolah hingga perguruan tinggi, gratisnya biaya kesehatan hingga digratiskannya pembayaran iuran listrik PLN di bawah 1000 kwh. Biaya-biaya yang diduga selama ini menjadi ajang pemerasan rakyat dihapus total seperti ditiadakanya biaya perpanjangan SIM, pajak kendaraan roda dua sampai digaryiskanya bensin. Sebab bagi AMIN rakyat merupakan raja yang harus dilayani plus service yang memuaskan.

Rakyat adil makmur segera dirasakan bagi seluruh rakyat tanpa pandang bulu dan pilih-pilih golongan. Begitu juga dengan pelaku yang melanggar hukum. Sebab negara hukum adalah negara yang menegakkan hukum bagi siapapun tanpa terkecuali. Jangankan anak presiden, presidennya sendiri jika melanggar hukum tak luput dari proses hukum itu lah negara hukum yang sebenarnya. (Anakmedan01)