Lantang Bersuara Kebenaran & Fakta

Argentina ‘Brutal’ Pulang dengan Kartu Merah, Spanyol Juara Dunia Terhormat, Alimbas KAHMI Soor Kali Bah!

Penulis: Bapak Hasibuan

ANAKMEDANBUNG.com, CIBUBUR – Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol kontra Argentina menyisakan cerita tak terlupakan di Kafe Batang Gadis, Cibubur, Jakarta Timur. Nobar yang digelar usai agenda “Truf Gembira” para Alimbas KAHMI ini mendadak riuh, bukan hanya karena gol kemenangan Spanyol, tapi karena ulah “brutal” Lionel Messi dkk. di atas rumput hijau tidak fair play.



Diawali dari meja bundar, tawa pecah menyertai kartu-kartu yang beradu, saling potong dan pencari kartu si Tiga “hukum”. Bagi kami, Truf bukan sekadar permainan kartu, ini adalah ritual silaturahmi, ajang adu strategi, dan tempat melepas penat. Di sini, tak ada sekat senioritas, yang ada hanya keseruan dan gelak tawa khas anak-anak Medan perantau.

Namun, suasana cair itu perlahan berubah menjadi ketegangan saat layar mulai menampilkan kick-off final antara Spanyol melawan Argentina. Jujur, bagi kami yang sudah kenyang dengan atmosfer panas Stadion Teladan Medan era penghujung 80-an hingga 90-an—saat PSMS, Harimau Tapanuli, dan Medan Jaya menjadi raja Liga Indonesia—laga ini sungguh menguras emosi.

“Bah, sudah brutal lah kita menonton bola dulu, tapi rupanya lebih brutal pemain Argentina ini! Tak berkeok mereka dibuat Spanyol,” teriak ku memecah keriuhan melihat Argentina lebih banyak mengandalkan kekerasan fisik ketimbang teknik olah bola.

Sepanjang laga, Spanyol tampil luar biasa disiplin. Meski terus digempur dengan permainan kasar—yang bahkan memaksa wasit mengeluarkan kartu merah untuk Enzo Fernandez—anak asuh Luis de la Fuente ini justru makin solid.

Bang Rasyid, politisi senior yang juga Stafsus di salah satu Kementerian, tampak terus “panas” sepanjang laga. Beliau sempat menyayangkan kepemimpinan wasit yang menganulir dua gol Spanyol. “Garis kaki Spanyol juara dunia! Mereka konsisten menyerang meski wasit menganulir dua gol mereka,” ujar Bang Rasyid yang merayakan kemenangan La Roja dengan menikmati seporsi Lontong Medan.

Tak ketinggalan, Bang Edy Suryanto yang sejak awal tampak sangat menikmati jalannya pertandingan, sesekali mengeluarkan celetukan yang mewakili isi hati kami semua. “Spanyol tetap fokus dan konsisten dengan permainan menyerang. Permainan cantik dan pantas jadi sang juara,” ucapnya serius.

Sementara itu, Ketua Truf Gembira Alimbas, Bang Fadli Nasution, lebih kepada menyoroti sportivitas. “Menang dengan terhormat itu penting, Spanyol telah mempertontonkan pada dunia. Tapi kalah dengan hormat juga tak kalah penting, Argentina sebagai juara bertahan tidak menunjukkan itu,” tegas praktisi hukum tersebut.

Wak Ibay, pakar ekonomi yang sedang menggarap beberapa buku, mengaku soor kali melihat aksi Lamine Yamal dkk. “Terutama masuknya pemain pemain pengganti membuat pertahanan Argentina semakin kocar-kacir. Spanyol memang pantas juara,” puji Wak Ibay yang menjadi Imam Shalat Subuh, menutup Nobar Alimbas.

Mengulik pertandingan yang digelar di New York, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB ini memang layak disebut final sejati. Dua tim teratas peringkat FIFA bertarung sengit. Spanyol mendominasi, namun kiper Argentina, Emiliano Martinez, tampil heroik dengan melakukan 12 penyelamatan gemilang.

Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-106. Umpan silang manis Pedro Porro disundul oleh Nico Williams, yang kemudian disambut dengan tembakan keras oleh Ferran Torres—pemain yang mengenakan nomor punggung 7, persis seperti Ronaldo—ke sudut atas gawang. Gol ini mengunci kemenangan 1-0 untuk Spanyol sekaligus mengantarkan mereka menjadi juara dunia untuk kedua kalinya.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, tak mampu menyembunyikan rasa harunya usai laga. “Kami telah memenangkan segalanya, dan itu luar biasa. Mereka adalah generasi pemain yang menjadi sumber kebanggaan bagi Spanyol. Bersama-sama, kita lebih kuat,” ungkapnya penuh emosi.

Bagi kami di Kafe Batang Gadis, Spanyol juara dunia adalah kemenangan jauh lebih manis karena diraih dengan teknik, bukan intrik dan permainan brutal. Dan bagi Alimbas KAHMI, malam itu bukan sekadar soal bola, tapi tentang memori masa lalu yang bersatu kembali dalam hangatnya “Kopi Mandailing” Silaturahmi.**