Bang Jaya Arjuna ‘Sang Penjaga Akal Sehat’: Intelektual Organik Gak Bisa Dibeli
"Sains itu buat nyelamatin orang banyak, bukan buat nutupi kebijakan yang mencong," begitu kira-kira prinsip teguh yang selalu dia jaga.
ANAKMEDANBUNG.com | MEDAN – Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Kabar duka menyelimuti keluarga besar Universitas Sumatera Utara (USU) dan dunia aktivis di Medan. Bang Jaya Arjuna—sang penjaga akal sehat, alumni Teknik Mesin USU ’74—telah berpulang ke rahmatullah. Sumatera Utara kehilangan sosok “Intelektual Organik” yang aslinya.
Bang Jaya bukan tipikal dosen yang cuma duduk manis di ruang kelas sambil baca diktat. Bang Jaya identik bergaya Anak Medan Bung! yang tak lepas bertopi baret ala pelukis Pak Tino Sidin.
Almarhum adalah petarung lapangan yang memilih berdiri di sisi kebenaran, biarpun pilihannya itu nggak bikin dia populer di mata penguasa atau nggak ngasih keuntungan materi.
Pria petarung intelektual ini semasa hidupnya menelurkan buku di antaranya berjudul “Ulok”, “Medan Banjir Bebas Dimana-mana”, hingga buku “Pedoman Permainan Trup Gembira”.
Lawan “Akal-akalan”
Di Forum Penyelamat USU (FP-USU), nama Bang Jaya jaminan integritas, dikenal paling vokal kalau sudah bicara soal penyimpangan.
Ingat kritik pedasnya soal proyek kolam retensi di kampus? Saat banyak orang cuma diam, Bang Jaya lantang bilang kalau itu cuma “akal-akalan”.
Logika teknisnya simpel tapi nancap, “kalau solusinya nggak sentuh akar masalah, itu namanya cuma mindahin banjir, bukan nyelesaiin.”
Dan faktanya? Sampai sekarang Jalan Dr. Mansyur yang menjadi kasus jalan besar Kampus USU masih langganan banjir, kan? Itu bukti kalau omongan Bang Jaya itu benar adanya.
Bang Jaya nggak mau jual ilmu insinyurnya cuma demi kompromi politik atau proyek formalitas.
“Sains itu buat nyelamatin orang banyak, bukan buat nutupi kebijakan yang mencong,” begitu kira-kira prinsip teguh yang selalu dia jaga.
Ada cerita haru sekaligus miris yang terungkap pasca kepulangan Bang Jaya.
Saat para sejawatnya ngumpul di rumah Bang Zahrin, pada Kamis sore (1/1/2026), terkuaklah fakta kalau Bang Jaya pernah nawarin solusi buat drainase dan banjir Medan dengan modal Rp350 miliar aja.
Buat ukuran politisi atau kontraktor proyek “kakap”, angka itu mungkin dianggap “kecil” atau nggak masuk akal. Tapi buat Bang Jaya, duit segitu udah lebih dari cukup kalau dikerjakan dengan kejujuran.
Di sini kita lihat kelasnya, Bang Jaya bukan “tukang” yang manut disuruh apa aja, dia adalah akademisi sejati yang punya integritas dan etika.
Senior Teladan Rendah Hati
Bagi anak-anak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), khususnya para instruktur, Bang Jaya adalah role model. Bersama tokoh-tokoh hebat lainnya, beliau ikut menempa karakter banyak aktivis di Medan. Bukan cuma di kampus, dedikasinya juga di sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Medan masa-masa awal berdiri.
Kepergiannya yang mendadak ini bikin banyak orang terkejut. Apalagi, beliau sempat kirim empati atas wafatnya ibunda Kakanda Dr. Zahrin Piliang (Ketum HMI Cab. Medan 1983-1984) di pertengahan Desember 2025 lalu. Tak ada kabar sakit, tiba-tiba Allah SWT manggil beliau pulang.
Bang Jaya sudah menunaikan tugasnya. Beliau ngajarin kita kalau berani bersuara benar itu adalah bagian dari ibadah sosial.
Dan Bang Arjuna berkata, “Kampus itu harusnya hidup dengan orang-orang yang berani bilang “salah” kalau memang salah, bukan cuma jadi stempel kekuasaan.”
Selamat jalan, Bang Jaya Arjuna.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan menempatkan Abang di tempat terbaik-Nya. Doa kami menyertaimu.
Duka Cita Mendalam,
Instruktur HMI Cabang Medan
Penulis: Adv. M. Taufik Umar Dani Harahap, SH (Sekum Badko HMI Sumut 1997-1999)
Editor: AnakMedanBung