Lantang Bersuara Kebenaran & Fakta

DI TANGGA MASJID, AIR SUJUD, KAYU RUKUK: ADA AMIR & CHAIRIL

ANAKMEDANBUNG.com | Oleh: Muhammad Joni



Daku terhenyak—

Tamiang menyala dalam mata:

kayu gelondongan, urat rimba tercabut,

menyerbu sungai

bagai murka tanpa alamat.

 

sekali datang.

sekali menghantam.

kampung runtuh,

doa patah,

lumpur menulis maut di dinding waktu.

 

bukan hujan.

bukan takdir.

ini tangan rakus

yang mengajari sungai cara membunuh.

 

lalu—

di satu detik yang tak dicatat jam,

di batas azan dan sujud,

semua berhenti.

 

kayu rebah

di halaman pesantren.

air diam

di tangga masjid.

 

di ambang.

di garis yang tak berani

dilangkahi murka.

 

sepotong kota selamat.

bukan oleh beton,

melainkan oleh rahmat

yang menahan ujung bencana.

 

apakah ini kifarat—

hukuman yang mengingatkan?

apakah mukjizat—

rahmat yang belum dicabut?

 

Amir Hamzah berbisik dari sunyi:

Tuhan dekat

di batas yang ditahan-Nya.

 

Chairil Anwar berteriak dari lumpur:

sekali berarti—

sekali hutan disayat,

sekali sungai diperkosa,

sekali kota nyaris mati.

 

namun di ambang masjid

air sujud,

kayu tunduk, 

gelondongan rukuk,

dan murka, 

kehilangan kata.

 

lantunan doa berbisik tak diam,

tenaga doa benteng menolak bala. 

 

Seperti Amir, kita berbisik apa kepada sunyi? Ini bencana nasional!

Mengikuti Chairil, meneriakkan apa kepada Astina? Kita masih mampu!