Lantang Bersuara Kebenaran & Fakta

Sang Santuy Pemilik “DNA” Ketua: Marasamin Ritonga

Marasamin Ritonga tumbuh bukan sebagai tokoh mahasiswa yang mengejar panggung, tetapi sebagai orang yang dicari panggung. Ajaib.

AankMedanBung.com | by: Muhammad Joni



Lampu naik perlahan.
Panggung sunyi.
Sejarah menahan napas.

Almanak tanggal 3 Januari 1967. Seorang anak lahir—tanpa tahu kelak dia akan memimpin bukan dengan suara keras, melainkan dengan kepercayaan orang-orang di sekelilingnya.

Nun di kampus FH USU. Di pertigaan koridor keramat HMl yang bau kopi dan debat tak selesai. Marasamin Ritonga tumbuh bukan sebagai tokoh mahasiswa yang mengejar panggung, tetapi sebagai orang yang dicari panggung. Ajaib.

Ketika Samin maju sebagai Ketua Umum/ Mandataris HMI Komisariat Fakultas Hukum USU (1988–1989), basis massa loyal sudah bekerja lebih dulu. Dia tak sibuk berkampanye. Dia sibuk hadir dan santuy melobi anggota pemilik suara lapis atas-tengah-bawah. Itu keahliannya yang natural.

Adegan RAK — Jalan Adinegoro 15, Medan. Kekira jam 07.00 pagi. Rapat Anggota Komisariat (RAK) molor. Pemilihan ketua baru tak kunjung dimulai.

Waktu berjalan.
Perut lapar.
Emosi kader zigzag: naik turun.

Di sudut ruangan, Rosnidar Sembiring—dipanggil Oni, kini Guru Besar Hukum Adat FH USU—merapat perlahan ke Marasamin.

Suaranya berbisik. Setengah mendayu. Setengah mengancam waktu: “Ooh Min… jam berapanya pemilihan ketua HMI ini?
Aku sudah dijemput Mas Anto nanti…”, ujarnya akrab berseru.

Bukan keluhan.
Bukan manuver.
Itu indikator elektabilitas.

Tak ada instruksi. Tak ada tekanan. Namun semua tahu: kalau pemilihan segera dimulai, nama Marasamin akan selesai cepat dan menang.

Dan benar saja. Ketika palu akhirnya diketuk, dia menang bukan karena trik, tetapi karena terlalu banyak orang merasa diwakili.

Analisis hipotetis saya, setengah bercanda bahwa Samin punya “DNA” Ketua. Tapi lebih dari itu, dia punya “DNA” Menang. Bukan menang tipu-tipu, melainkan menang karena dipercaya.

Lampu bergeser.
Dia naik ke Cabang Medan. Menjadi Ketua Bidang Pembinaan Anggota. Sibuk menjadi instruktur. Dia loyal mencetak kader, seperti empu ahli besi mencetak baja: dipanaskan, dipukul, lalu didinginkan dengan etika.

Bersamanya, amba membentengi bidang
Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan, yang berarsiran dengan
kalian rekrutmen anggota dan kaderisasi. Kami menerapkan cara rekrutmen berlapis. Strategi kunci-grendel. Jemput bola.

Kader bukan hanya dikumpulkan, tetapi dirawat dan dikunci agar tunduk sukarela menjadi kader hijau-hitam yakusa: yakin usaha sampai, frasa himne HMI.

Masuk dunia advokat.
IKADIN Medan. Marasamin menjadi Ketua DPC. Basis massa kembali bekerja.

PKPA –Pendidikan Khusus Profesi Advokat– dia jaga ketat. Mengapa?
Karena dia tahu: kalau pintu awal rusak, seluruh rumah profesi akan bocor.

Ketika RUU Advokat datang menggoda dengan kompromi, Marasamin Ritonga tak goyah.

Walau kalem, dia sudah terlatih menghadapi tekanan,
molornya waktu, dan godaan pulang cepat sejak RAK HMI Komisariat FH USU di Adinegoro 15 pagi hari itu.

Di PERADI, dia acap membuka muscab (musyawarah cabang), mendorong regenerasi, tanpa menumbangkan senior. Samin paham psikologi massa: jangan buat orang merasa disingkirkan, buat mereka merasa dilibatkan.

Lampu redup.
Adegan kemanusiaan.
Anak-anak jermal.
Anak-anak berkonflik dengan hukum. Dan lebih banyak isu hak anak lainnya yang parah tak terduga.

Bersama saya, Muhammad Joni, melalui LAAI (Lembaga Advokasi Anak Indonesia) yang dibentuk dan dipimpin Maiyasyak Johan dan sahabat/ koleganya—kami solid membela anak-anak yang tak punya basis suara. Karena bagi Marasamin, hukum tanpa pembelaan adalah pidato kosong-kosong.

Lanjut ke Adegan Adat.
Dia sebagai Sekretaris
Parsadaan Marga Ritonga Dohot Anak Boruna se-Dunia, Samin mengorganisasi ingatan kolektif.

Monumen Ritonga di Parsosoran, Garoga, Taput, menjulang dari 9 meter menjadi 27,5 meter. Tinggi. Tegak. Seperti reputasinya—tak perlu diumumkan, cukup dilihat.

Finale.
Di rumah, dia berdampingan dengan permaisurinya Rosihan Juhriah Rangkuti, S.H., M.H., kader HMI juga yang kini Hakim Tinggi di Palembang.

Di kantornya, dia menakhodai Law Office Marasamin Ritonga & Partners di Jalan Sutomo 6 Medan. Melanjutkan markas LAAI.

Dan bila hari ini orang bertanya, “Mengapa Marasamin selalu dipercaya?” jawabannya sederhana. Karena sejak pagi buta di Adinegoro 15, hingga monumen setinggi langit di Garoga, dia selalu menang tanpa meninggalkan siapa pun di belakang.

Lampu padam.
Tersisa tawa kecil.
Dan satu pelajaran besar: pemimpin sejati bahkan menang saat orang lain sedang menunggu dijemput. Dia kader tangguh. Tak “DNA” orang biasa. Barakallah. Tahniah karibku Marasamin Ritonga. Tabik.

 

**) Adv. Muhammad Joni, SH.MH., Alumni HMI Komisariat FH USU.