Proyek Drainase di Medan Buat Resah, Warga Geruduk Pekerja Proyek
Medan
Proyek drainase di Kota Medan diduga membuat warga resah. Selain mengganggu usaha dagangan warga, air PDAM tak dapat mengalir ke rumah-rumah bahkan sekolah -sekolah hingga pihak sekolah terpaksa meliburkan sekolah hingga 8 hari.
Sangkin resahnya belasan warga mendatangi para pekerja proyek drainase di Jalan Pasundan, Medan Petisah, Rabu (11/10/2023)
Belasan warga mayoritas kaum emak – emak itu mengeluhkan masalah air mati yang sudah 8 hari karena pengerjaan proyek drainase yang lamban.
Salah satu warga bernama Wini mengatakan jika sebelum mereka melakukan aksi hari ini, mereka telah berbicara sama pihak pekerja. Namun jawaban yang mereka terima tidak jelas.
‘Jadi kenapa kami ngumpulin warga karena sebelumnya sudah dibicarakan, tapi jawabannya a alasannya b, jadi kita aja dikasih alasan sudah nggak jelas,” kata Wini saat ditemui di lokasi
Sehingga mereka berinisiatif mendatangi langsung lokasi pengerjaan secara beramai-ramai. Sebab mereka menilai pengerjaan drainase di jalan tersebut terlalu lama, tidak seperti di lokasi lain.
“Jadi kami kumpul mau protes air kami sudah 8 hari nggak hidup, kalau tadi 3 atau 4 hari mati ya wajar karena bekerja, tapi kan nggak selama 8 hari, di jalan lain nggak selama ini,” ucapnya.
Air mati total ke rumah warga selama 8 hari belakangan. Bahkan mesin pompa air pun tidak bisa digunakan.
Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga membeli air galon isi ulang. Warga sampai membeli 15 galon lebih satu hari dengan harga Rp 5 ribu per galon.
“Kan nggak mungkin juga kami tiap hari beli air untuk masak, jangankan masak untuk mandi pun beli, (satu hari beli) 15 galon lebih itu dibantu lagi dari air warga sebelah sana yang hidup,” ujarnya.
Setelah melakukan aksi geruduk tersebut, pihak pekerja berjanji akan menuntaskan pekerjaan mereka malam ini. Jika janji tersebut tidak ditepati, warga akan melarang mereka bekerja besok.
“Mereka tadi malam ini selesai, kalau nanti nggak selesai juga, besok mereka nggak boleh kerja kalau begitu, ya udah kami langsung ke atasan nya aja kalau apa,” bebernya.
Air mati tersebut juga membuat sekolah Perguruan Nasional Pasundan meliburkan 200-an muridnya seminggu ini. Mereka berharap proyek tersebut segera diselesaikan sehingga anak-anak kembali sekolah.
“Satu minggu libur selama air PAM putus, jadi pihak sekolah pun nggak bisa memberi solusi, masalahnya kan termasuk kami pun anggaran sedikit,” sebut penjaga sekolah, Suyanto
Selain sekolah, Madrasah Raudhatul Hasanah juga meliburkan aktivitas belajar mengajar. Sebab anak murid tidak bisa mengambil wudu karena air mati.
“Kalau mengambil air wudu susah air kan, jadi diliburkan orang itu, semenjak ada ini lah (pengerjaan drainase) sebelumnya nggak pernah (mati),” ungkap Rina, salah satu pengajar di madrasah itu(anakmedan/dtk)