Lapas Sesak Macam Angkot, Abdullah Rasyid: Warga Binaan Harus Produktif, Jangan Cuma Makan Tidur
Gak main-main, biarpun tempat terbatas, warga binaan kita udah banyak yang jago. Ada sekitar 70 ribu orang yang udah banting tulang di bidang tani, ternak ikan, sampe bikin kerajinan dan manufaktur. Hasilnya? Negara kecipratan PNBP sampe Rp80 miliar setahun! Ngeri gak tuh?
ANAKMEDANBUNG.com, JAKARTA – Kemenimipas (Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan) lagi bikin gebrakan paten, ketua! Gak mau cuma sekadar “ngandangin” orang, sekarang sistem penjara kita diubah jadi pusat produksi yang berbasis data. Intinya, warga binaan disuruh produktif biar pas bebas nanti punya modal kerja dan gak pening pala nyari makan, sekaligus diterapkannya itu yang namanya restorative justice.
“Pemasyarakatan produktif ini bukan kaleng-kaleng atau sekadar program sosial aja, tapi ini desain besar biar angka residivisme (orang balik masuk penjara) makin ciut. Caranya ya lewat ekonomi sama perbaikan hubungan sosial. Data udah bicara, kalau ada skill sama kerjaan, mereka gak bakal mau lagi balek ke jalan yang salah,” tegas Staf Khusus Menteri, Ir. H. Abdullah Rasyid, M.E., pas cakap-cakap di Jakarta (22/4/2026).
Masalahnya sekarang, Lapas kita udah sesak kali, macam angkot jam pulang kerja! Data tahun 2025 nengokkan kalau penghuni Lapas sama Rutan udah tembus 270 ribu orang, padahal kapasitasnya cuma buat 140 ribu. Udah overload 90 persen lebih itu, makanya program mandiri ini jadi kunci biar warga binaan gak makin suntuk di dalam.
“Coba bayangkan kalau 20 sampe 30 persen warga binaan ini masuk ke sistem produksi yang mantap. Ini bukan cuma soal bina-bina aja, tapi ada potensi duit (ekonomi) yang nyata di situ,” kata Abdullah Rasyid.
Gak main-main, biarpun tempat terbatas, warga binaan kita udah banyak yang jago. Ada sekitar 70 ribu orang yang udah banting tulang di bidang tani, ternak ikan, sampe bikin kerajinan dan manufaktur. Hasilnya? Negara kecipratan PNBP sampe Rp80 miliar setahun! Ngeri gak tuh?
“Tantangan memang masih banyak, mulai dari anggaran sampe fasilitas yang masih kurang. Tapi arah kita udah jelas, Lapas harus produktif, adaptif, dan nyambung ke sistem ekonomi, tapi tetap pake aturan keadilan restoratif,” tambahnya lagi dengan nada tegas.
Nantinya, Kemenimipas mau bikin model link and match. Jadi, apa yang dipelajari di dalam sel, itu pulalah yang dibutuhkan pabrik-pabrik di luar.
Biar pas keluar nanti, mantan warga binaan ini gak cuma bawa ijazah pelatihan, tapi bawa sertifikat yang laku di pasar kerja. Gak ada lagi ceritanya mereka dikucilkan masyarakat karena udah punya kontribusi nyata.
“Kita mau fungsi penjara itu bukan cuma buat nghukum orang sampe jera, tapi buat ngebangun kembali manusianya biar lebih paten pas balik ke tengah masyarakat,” tutupnya.
Ke depannya, Kemenimipas optimis kali kalau cara ini bisa bikin angka kriminalitas turun dan menciptakan lapangan kerja baru yang inklusif di Indonesia. Mantap kali, kan? [pak]