HUTAN POHON: TEKNOLOGI ALAMI YANG LEBIH TUA DARI “POHON” REPUBLIK
Ketika satu saja pohon ditebang, kita bukan hanya kehilangan daun—kita kehilangan mesin penyelamat bencana yang paling murah. Paling jujur. Paling bebas korupsi.
ANAKMEDANBUNG.com | Terbukti, pohon adalah hidup! Anda sakit, peluk-lah pohon. Dapat pesan digital besok kiamat, tanam-lah pohon.
Menghidupkan pohon itu sunnah dan sang hidup.
Kementerian urusan hutan-lingkungan adalah kementerian kehidupan.Lebih penting dari kementerian industri kesehatan.
Paradoks. Di tengah negara yang sibuk membangun menara beton dan membongkar hutan pohon tanpa jeda, ada satu pengetahuan purba yang pantang republik manapun tinggalkan: pohon adalah teknologi alami.
Sebelum republik +62 punya insinyur pertama, sebelum parlemen mengatur banjir dengan pasal paripurna, sebelum ilmuwan merekayasa udara dalam tabung, pohon sudah melakukannya.
Dalam sunyi, seperti syair T.Amir Hamzah. Dalam sabar, seperti merawat benih talenta susastra Andrea Hirata. Dalam totalitas tanpa tanda jasa, seperti elan litigator muda.
Teknologi pertama manusia bukan roda.
Bukan besi. Bukan listrik. Teknologi pertama manusia adalah rindang. Dan kita yang bengak menebangnya.
Pohon Sebagai Barang Bukti Tanpa Suara
Bayangkan ruang sidang yang tegang. Seorang pengacara-litigator muda berdiri, wajahnya keras seperti batu karang dihantam badai.
Sosoknya dibalut toga menggunakan kuasa tangannya, dia mengangkat setangkai daun kering.
“Yang Mulia,” katanya, “teknologi tidak selalu lahir dari pabrik. Terkadang dia tumbuh dari tanah, menua di bawah matahari, dan mati di pangkuan bumi.”
Akar adalah pipa hidrologi terbaik. Daun adalah filter udara paling efisien. Batang adalah arsip karbon—server raksasa penyimpan dosa ekologis kita.
Ketika satu saja pohon ditebang, kita bukan hanya kehilangan daun—kita kehilangan mesin penyelamat bencana yang paling murah. Paling jujur. Paling bebas korupsi.
Setiap pohon yang tumbang adalah alat bukti hilang dalam perkara bencana.
Negara bersalah. Manusia bersalah. Dan alam tidak pernah berbohong.
Pohon Sebagai Rumah Ingatan
Sastrawan pro pohon sekelas Andrea Hirata syaraf syair mimpinya pasti akan menggambarkan begini:
“Di sebuah kampung yang namanya tidak pernah muncul di peta nasional, seorang anak kecil duduk di bawah pohon jambu”.
” Di sanalah ia belajar mengeja mimpi, memecah rasa takut, dan memandang dunia tanpa curiga”
“Dia tidak tahu apa itu teknologi hijau. Tapi dia tahu: pohon itu meneduhinya dari panas, menghiburnya saat hujan, dan menemani sepi malam yang panjang”.
Pohon bekerja tanpa gaji, tanpa rapat, tanpa renstra, tanpa BPJS, tanpa panik ketika bencana datang.
Dia tetap berdiri untuk manusia— bahkan setelah manusia menghianatinya berkali-kali.
Pohon Sebagai Dzikir Semesta
Jika Amir Hamzah masih hidup, Ku Busu sang hakim agung Langkat berwajah santun itu akan menulis puisi liris ini:
“Hijau daun memanggul risau langit/ Akar meraba sunyi bumi mencari rahasia air/Dan batangmu, wahai pohon/ Tegak membawa doa yang manusia lupa ucapkan.”
Pohon adalah zikir yang tumbuh. Yang tidak memprotes. Yang tidak menuntut. Yang hanya bekerja untuk menjaga kita tetap bernapas.
Ketika manusia menyakiti alam, alam tidak membalas—dia hanya mundur. Dan ketahuilah manusia, ketika dia mundur, bencana pun maju tak gentar.
Sesat Nalar
Dalam sebuah forum publik yang mulai panas, muncul komentar congkak di layar TV. Yang menjadi ciri kemunduran moral hidup dan logika ekologis bangsa: Ujarnya, “Untuk apa kembali ke ekosistem awal?”
Seakan jasad bisa ditanam di makam sintetis. Pohon sintetis. Akal liberal sintetis.
Seketika, advokat-litigator muda itu menegakkan kepala. Dia tahu: kalimat itu tak boleh dibiarkan hidup.
1. Bantahan Hukum
“Untuk apa kembali ke ekosistem awal?”
Karena itu satu-satunya desain alam yang terbukti bekerja ribuan tahun.
Karena hukum alam tidak minta izin manusia untuk menjatuhkan sanksi. Namun menghukum langsung: banjir, longsor, panas ekstrem, krisis air.
Ekosistem awal adalah blueprint keselamatan.
Siapa yang nekat melecehkannya, sedang menandatangani kontrak kehancuran.
2. Bantahan Kemanusiaan
Syaraf syair a la Hirata akan menjawab begini: “Untuk apa kembali ke ekosistem awal?”
Untuk anak yang ingin meminum air sungai tanpa takut mati.
Untuk ibu yang ingin hujan tanpa banjir.
Untuk petani yang ingin tanahnya tetap hidup.
Untuk kampung yang ingin bertahan dari serakah kota.
Kembali ke ekosistem awal bukan nostalgia—itu rasionalitas paling dasar.
3. Bantahan Lirisme
Andai Nh. Dini bersua Amir Hamzah imajiner, Pangeran Dari Seberang itu akan mendikgekan lirih: “Kembalilah ke mula, wahai manusia,
Ke hening yang menyelamatkanmu,
Ke tanah yang memujimu,
Ke pohon yang merawat lalai hidupmu”.
4. Bantahan Alam Tanpa Ampun
Kalimat “Untuk apa kembali ke ekosistem awal?” hanya lahir dari dua hal: ketidaktahuan, dan kesombongan.
Andai bangsa yang sedang tenggelam bertanya, “Untuk apa kembali ke perahu?”
Andai bangsa yang sedang terbakar bertanya, “Untuk apa kembali ke pintu keluar?”
Jawabannya satu:
Karena kita ingin hidup.
Dan karena teknologi pengetahuan manusia, secanggih apa pun, tidak akan pernah bisa menggantikan teknologi alami yang bernama pohon.
Epilog: Manifesto Pohon
Pohon bukan masa lalu.
Pohon adalah masa depan yang sedang kita bunuh. Catat, sejarah mengajarkan: bangsa yang membunuh masa depannya—akan dikubur oleh masa lalu yang diabaikannya.
Deforestasi adalah maut. Reboisasi menghidupkan nyawa sang hidup. Tiap kita menanam kembali pohon adalah fardhu. Seperti fardhu menjaga hidup. Tabik.
*) Muhammad Joni