Merdeka Pewarta
Mengisi kemerdekaan itu bisa dengan beragam hal. Banyak cara. Tak meluluk berbuat hal besar, hal remeh temeh pun asal bermakna, bisa diwujudkan.
Berteriak lantang memekik kata merdeka saja pun, bagi sebagian orang, juga sebuah kemerdekaan. Dia diberi kebebasan berteriak. Bebas, titik! Merdeka…merdeka…merdeka.
Bagi sebagian lagi, saking banyaknya cara memaknai merdeka tadi, kita pilih salah satu saja yakni; cara Ketua Pewarta Polrestabes Medan. Karena kalau dituruti, semua dituliskan satu persatu, it’s imposibble. Mustahil!
Maulah sampai selesai PPKM, tak akan ada habisnya.
Bagaimana cara Chairum Lubis SH mengamalkan kemerdekaan? Apa berbeda dengan yang lain? Tak jauh beda ternyata. Sama saja. Idem.
Tapi agar tak gagal faham, baiknya sependek sepengetahuan saya, kita bahas dulu makna kemerdekaan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Maknanya adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan.
Merdeka berarti bebas.
Nah bagi Sekjend JMSI Sumut itu, kini ia merasa bebas melakukan apa saja. Dalam hal beraspek positif. Bukan yang neko-neko. Tak macam-macamlah kata orang sini.
Bebas, setelah ia mendirikan sebuah portal berita daring Pewarta.co. Digawanginya bersama rekan-rekan jurnalis muda.
“Sebelum mendirikan pewarta.co, saya tidak sebebas sekarang. Saya tak mampu berbuat, terutama membantu kawan-kawan (jurnalis) dan warga yang susah,”kata Chairum.
Saya tak mau menanyai, sebelum di pewarta dia berkecimpung dimana. Itu urusannya. Bukan urusan saya.
Saya hanya mau mengucapkan salut. Buat dia. Meski banyak orang mungkin mencibir. Ah kebaikannya riya, ujub atau apalah. Apalagi setelah membantu oramg, memberi santunan, Chairum kerap foto-foto. Lantas diviralkan.
Tayang dipelbagai media daring jaringannya. Sebagian risih. Tapi dia tak peduli. Tetap saja memberi dan berbagi. Seperti saat momen 17 an, HUT RI ke 76 tahun, semalam.
Bersama karib kentalnya, Zak ‘Rambo’ Achmad, H Abdul Meliala, Bardansyah, mereka bergerilya menyantuni orang susah. Nun jauh disana, di kawasan Patumbak, ditemui jurnalis yang butuh pertolongan.
Adalah, Susandi yang terbaring sakit. Dia tinggal di Jalan Pertahanan, Desa Patumbak II, Komplek Citra Lembayung Asri.
Susandi merupakan jurnalis yang berpos di kantor DPRD Sumut. Selama hampir dua bulan terbaring lemah.
“Sakit batu ginjal. Saya pernah dioperasi tahun 2004 lalu, namun kambuh lagi. Kalau sudah kambuh sakit sekali. Makanya sementara saya berisitirahat dulu dan berobat kampung. Sekarang sudah lumayan,” ucapnya.
Begitulah cara ayah 3 putra dan 1 putri itu memaknai kemerdekaan. Kebebasannya setelah puluhan tahun menjadi wartawan, di lapangan.
Nikmat kebebasan itu ia rasakan, setelah menjadi owner salah satu media daring mentereng di kota ini.
Dia bebas membantu siapa saja, sepanjang kesanggupannya. Meski sebagian memandangnya sebelah mata (kayak bajak laut) ehehee…… Cocok ketua?? (Rp50.000 kek video viral itu).(wik)